Critical Review Jurnal Manajemen Pengetahuan : Transfer Pengetahuan yang Strategis dan Implikasinya terhadap Keunggulan Organisasi atau Perusahaan : Sebuah Kerangka Konseptual Integrative
by : Wismu dewobroto
Dipercaya bahwa pengetahuan sangat berperan di dalam perusahaan dan masyarakat. Pengetahuan akan memberikan dampak yang semakin besar apabila pengetahuan itu mengalami proses transfer (Nonaka dan Takeuchi, 1995). Oleh karena itu, penulis akan menitik beratkan transfered knowledge dan kedua pandangan yang berfokus pada analisa dari atribut pengetahuan yang merangsang terwujudnya compatitive advantage dan padangan yang berfokus pada kemampuan dari organisasi dalam meng-akusisi pengetahuan (proses transfer)
Dalam pengulasannya critical review ini akan dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama akan mengulas dimensi dari transfer pengetahuan. Kemudian, karakteristik pengetahuan sebagai sumber compatitive advantage yang berkelanjutan (hubungan eksternal) dan bagian terakhir akan dibahas mengenai implikasi pengetahuan sebagai aset strategis didalam proses transfer internal.
Dimensi dari Pengetahuan yang sudah Mengalami Proses Transfer
Seperti dikemukakan oleh Winter, 1987 bahwa pengetahuan dapat dilihat dari beberapa dimensi taksonomis yang melihat aset pengetahuan dilihat dari kesulitannya untuk ditransfer :antara Tacit dan pengetahuan yang mudah untuk di artikulasikan (eksplisit), antara yang mudah diajarkan dan tidak, antara pengetahuan yang bisa diobservasi dan tidak, antara pengetahuan yang kompleks dan simpel dan antara pengetahuan yang bergantung dan berdiri sendiri dalam suatu sistem.
Dimensi tersebut sudah dipakai untuk bebagai studi empris dan dipakai oleh banyak peneliti untuk menganalisa transfer pengetahuan internal dan external (Tabel 1 dan Tabel 2 pada lampiran). Secara garis besar kedua proses transfer internal maupun eksternal memiliki karakteristik pengetahuan yang sama walaupun terdapat perbedaan dalam proses transfer dan implikasinya.
Kesimpulan yang dapat dibentuk dari beberapa analisa kedua proses transfer tersebut adalah terdapatnya empat karakteristik dasar dari transfer pengetahuan yaitu, tacitness, complexity, specificity dan systemic nature. Namun dikaitkan dengan apa yang dikemukakan oleh Winter, 1987, dimana transfer pengetahuan juga dilihat faktor kesulitannya untuk di transfer maka secara lebih detail terdapat 4 pasangan dimensi dari transfer pengetahuan yaitu antara tacit dan eksplisit, kompleks dan simpel, spesifik dan non-spesifik, dan sistemik dan autonomous.
Karakteristik dari Transfer Pengetahuan dan Compatitive Advantage
Salah satu pandangan terhadap manajemen pengetahuan memfokuskan pada karakteristik pengetahuan yang mempunyai dampak penting terhadap compatitive advantages suatu organisasi atau perusahaan. Dengan mempertimbangkan faktor tersebut maka terdapat empat kondisi karakter pengetahuan yang harus dipenuhi untuk tercapainya pengetahuan sebagai aset strategis yaitu, tidak mudah untuk dipindahkan, tidak mudah untuk ditiru, tidak mudah untuk tukar, dan mempunyai kekuatan tingkat stabilitas yang baik (Amit dan Schoemaker, 1993, Barney, 1991, Dierickx dan Cool 1989, Peteraf, 1993)
Untuk memenuhi keempat kondisi tersebut, maka perlu dianalisa setiap dimensi transfer pengetahuan dan implikasinya untuk mendukung tercapainya compatitive advantage.
• Pengetahuan Tacit dan Eksplicit. Pengetahuan tacit mempunyai komponen personal yang menjadikannya sulit untuk diformulasi dan dikomunikasikan. Di lain sisi pengetahuan eksplisit bisa dengan mudah di komunikasikan menggunakan bahasa yang sitematis. (Hill dan Ende, 1994, Nonaka, 1991). Hubungannya dengan pencapaian compatitive advantage pengetahuan tacit mempunyai peran penting sebagai aset strategis karena pengetahuan tacit lebih sulit untuk ditiru, di tukar, ditransfer dan diukur.
• Tingkat Kompleksitas (Degree of Complexity). Kompleks mempunyai definisi lain yaitu proses pembelajaran organisasi dan mempunyai kontribusi yang besar terhadap knowledge management (McElroy, Mark, 2000). Dari beberapa peneliti seperti Rogers (1983), Winter (1987), Zander dan Kogut (1995) dapat disimpulkan bahwa tingkat kompleksitas dari pengetahuan mempunyai dampak penting terhadap terciptanya compatitive advantages tergantung suatu perusahaan mengkombinasi antara kemampuan dan sumber dayanya. Dan kombinasi kedua faktor tersebut akan memberikan pengetahuan tersebut sulit untuk ditiru.
• Tingkat Kekhususan (Degree of Specificity). Seperti pada dimensi tingkat kompleksitas, tingkat kekhususan pengetahuan mempunyai dampak penting yang serupa untuk membangun competitive advantage, yaitu bahwa sumber pengetahuan yang memiliki asset kekhususan merupakan sumber pengetahuan yang mengakibatkan ambiguitas sehingga hal tersebut membuat pengetahuan tersebut akan sulit untuk ditiru (Barney, 1991; Amit dan Schoemaker, 1993 ; Peterah, 1993).
• Pengetahuan Sistemik dan Indipenden Beberapa studi mempelajari bahwa semakin sistemik dan indipenden suatu pengetahuan maka makin sulit untuk di tiru oleh perusahaan lain karena terdapat masalah koordinasi dalam proses pembentukan pengetahunannya. (chesbrough dan Teece, 1996; Gopalakrishnan dan Bierly, 2001)
Dari beberapa ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik tacit, kompleks, spesifik dan mempunyai sifat sistemik adalah suatu kombinasi karakteristik yang membuat pengetahuan menjadi aset strategis suatu perusahaan dimana hal tersebut adalah modal dasar sebagai sumber pembentuk competitive advantages.
Implikasi Pengetahuan Strategis dalan Transfer Internal
Proses transfer internal pengetahuan adalah proses yang sangat penting untuk tercapainya tujuan dalam membangun compatitive advantage didalam perusahaan. Transfer internal termasuk didalamnya adalah, transfer antar departemen, antar unit kerja dll.
Dalam segmen ini akan dibahas karakteristik pengetahuan dan implikasinya terhadap transfer internal dalam perusahaan.
• Implikasi transfer internal pengetahuan yang berkarakteristik tacit. Pengetahuan tacit sangat sult untuk di expresikan dan ditransfer. Hal ini sangat menguntungkan perusahaan karena karakteristik tersebut menjadikan pengetahuan akan sulit untuk ditiru dan diambil oleh perusahaan lain (Lubit, 2001). Namun disisi lain hal ini akan menyulitkan perusahaan untuk mentransfer pengetahuannya secara internal. Oleh karena itu, pengetahuan tacit harus mengalami beberapa perlakukan sebelum pengetahuan tersebut dapat ditransfer, dengan kata lain, pengetahuan tersebut harus mengalami proses kodefikasi sehingga pengetahuan tersebut akan menjadi eksplisit dan mudah untuk ditransfer dan direplikasi untuk internal perusahaan (Schulz dan Jobe, 2001)
Dalam hal ini timbulah suatu dilema dimana pengetahuan tacit yang telah dirubah menjadi eksplisit akan lebih mudah dilihat dan ditiru oleh perusahaan lain, dan oleh karena itu perusahaan harus membuat suatu sistem yang menghindari pengetahuan tersebut keluar dari wilayah transfer internal perusahaan (Zander dan Kogut, 1995)
• Implikasi transfer internal pengetahuan yang mempunyai karakter tingkat kompleksitas. Diketahui bahwa 2 jenis kompleksitas yaitu teknik dan sosial berperan penting untuk membuat pengetahuan sulit untuk diimitasi atau ditiru perusahaan lain (Diericks dan Cool, 1989; McMillan, 1985; Reed dan DeFillipi, 1990; Simonin, 1999; Winter, 1987). Namun hal ini juga menimbulkan masalah pada saat proses transfer di internal perusahaan. Pengetahuan yang teknikalakan lebih sulit untuk di rekonstruksi atau dibutuhkan tenaga ahli. Begitu pula dengan karakter kompleksitas sosial, proses transfer internal akan mengalami kesulitan sejak setiap individu akan berusaha menyimpan pengetahuannya sendiri sebagai aset pribadi mereka. (Leonard – Barton, 1995). Hal semacam ini sering terjadi dimana media management knowledge tidak berfungsi karena tidak ada individu yang mau membagi pengetahuannya karena meraka saling melindungi aset terbaik mereka.
• Implikasi transfer internal pengetahuan yang mempunyai karakter tingkat kekhususan Untuk karakter pengetahuan yang mempunyai tingkat spesialitas yang tinggi diyakini membutuhkan beberapa orang yang mempunyai kemampuan khusus untuk menanganinya. Untuk mendapatkan suatu pengetahuan, dibutuhkan beberapa bagian pengetahuan yang bersifat spesifik. Oleh karena itu diperlukan beberapa individu yang mampu untuk menggabungkan beberapa pengetahuan spesifik tersebut menjadi suatu pengetahuan yang umum (Grant, 1996). Proses penggabungannya ini dipercaya membutuhkan beberapa mekanisme seperti budaya organisasi, norma, rutinitas kebiasaan antar individu (Grant, 1996). Dapat disimpulkan bahwa semakin spesifik pengetahuan itu, maka akan semakin sulit pula dilakukannya proses transfer internal didalam perusahaan.
• Implikasi transfer internal pengetahuan yang Sistemik. Transfer pengetahuan bergantung pada intensitas dan hubungan antara sumber dan penerima dari pengetahuan (Hansen, 1999). Karena sifatnya pengetahuan yang sistemik dan membutuhkan komunikasi yang teratur, maka dapat disimpulkan bahwa proses transfer pengetahuan yang sistemik akan membutuhkan banyak koordinasi sehingga proses pentransferan internalnya akan sulit dan memakan waktu (Chesbrough dan Teece, 1996).
Dalam segmen ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang dikategorikan sebagai aset strategis untuk membentuk compatitive advantage memang akan sulit untuk ditiru oleh perusahaan lain. Tetapi dalam proses transfer internalnya, perusahaan akan banyak mengalami kendala yang dimana diperlukannya mekanisme proses transfer yang tepat, komunikasi yang baik dan keterikatan hubungan yang harmonis antar unit atau departemen.
Kesimpulan.
Didalam critical review ini telah dibahas beberapa implikasi dari pengetahuan strategis yang menjadi kerangka awal pembentukan compatitive advantage didalam suatu perusahaan. Diketahui bahwa karakteristik dari pengetahuan yang mendukung terbentuknya compatitive advantage ternyata sekaligus menjadi penghalang terjadinya proses transfer internal pengetahuan didalam suatu perusahaan. Oleh karena itu, ada dua cara yang dapat dilakukan organisasi/perusahaan menurut penulis. Pertama, adalah membuat pengetahuan lebih eksplisit, lebih sederhana dan dibuat dengan bahasa yang mudah. Dengan cara ini akan dipercaya mengeliminasi kesulitan untuk mentransfer pengetahuan dilingkungan internal, namun hal ini juga sekaligus membuat pengetahuan internal organisasi dapat dengan mudah ditransfer secara eksternal. Untuk mengantisipasi hal tersebut, mekanisme untuk melindungi pengetahuan internal sangat diperlukan walaupun memang akan ada biaya secara ekonomi dan sosial. Secara umum Liebeskind (1996) mengemukakan bahwa biaya tersebut mencakup, biaya investasi, biaya pemeliharaan infrastruktur, biaya organisasi dan biaya loss of communication yang dimaksud untuk melindungi pengetahuan antar perusahaan.
Penemuan kedua yang menarik dalam jurnal ini adalah transfer pengetahuan secara internal sangat tergantung oleh proses komunikasinya, hal ini mendukung konsep Szulanski (1996). Kemudian lebih jelasnya Krone (1987) dengan teori komunikasi-nya menjabarkan komponen dasar dari komunikasi adalah message (pesan), channel, sender (pengirim), receiver (penerima), encoding/decoding, dan feedback. Beberapa peneliti juga mempelajari bahwa ternyata agar proses komunikasi dapat berhasil tergantung dari karakteristik pengetahuan yang ditransfer yaitu nature of the receiving unit, the nature of source unit, dan the nature of organizational context.
Dengan kombinasi dari kedua pendekatan teori yang dibahas dijurnal ini dapat dikatakan bahwa untuk melakukan transfer pengetahuan sebagai proses, kita tidak hanya memfokuskan pada dampak pengetahuannya sebagai aset strategis. Namun pandangan yang lebih luas harus dilihat, dimana proses transfer sebagai satu kesatuan dan menganalisa bagaimana elemen yang berbeda (sumber, penerima dan konteks) dapat dibina untuk memfasilitasi proses transfer pengetahuan strategis agar lebih efisien. Walaupun pada dasarnya terdapat cara
Pandangan kerangka teori tersebut akan memberikan cara untuk membangun proses transfer pengetahuan sekaligus memproteksinya sebagai pengetahuan strategis tanpa berinvestasi pada sumber lain (outsourcing) diluar lingkungan internal perusahaan. Proses detail belum dijelaskan secara eksplisit, dan penulis berpendapat perlu dilakukanya penelitian lebih lanjut mengenai kerangka teori tersebut bisa digunakan untuk proses transfer internal.
